Jumat, 23 September 2011
Kita
sebab kita yang memilih melebur musim masing-masing
saling mendatangi, menikam rindu,
hingga senggama suara kita tumbuh menjadi monumen pengingkaran terhadap 7 warna pelangi
kita telah menjadi angin yang tertawa ditusuki hujan
meluncur bersama rotasi ribuan komet-komet
menari ketika tetap pilihan diujung menawarkan 2 pintu bertentangan
kita mengasah ketajaman airmata, pada sisa purnama sya'ban
supaya bumi yang ditetesi luka, membusuk,
lalu aromanya menggedor lapisan neraka
dimana kerangka sepasang sayap telah lama menanti arwah
menanti untuk terbang mengusung cendana pemilik surga
sebab kita telah menuntaskan peperangan
bukan sebagai pandawa atau kurawa
bukan sebagai oposan kiri-kanan
tapi sebagai diri kita sendiri
menuntaskan episode berjarak
menuntaskan darah dari dalam bebatuan
menuntaskan nyawa para pendusta
kita yang telah memilih melebur musim masing-masing
dalam sjak suara
sejak suara
menjejak dalam suara
pabrik mu
19-07-2011
Rabu, 14 September 2011
Kisah
Sementara pelangi sibuk menakar kepatutan mendung yg kelam,
mengertilah aku, betapa tawamu teramat keramat untuk dibenamkan airmata,
dan meski hanya sedesir angin yang rapuh, aku menuntut langit,
mengabarkan pada bidadari surga,
"aku telah menemukannya ..."
Langganan:
Postingan (Atom)
